Mengembangkan Karakter Anak dalam Keluarga
Keluarga
adalah faktor penting dalam
pendidikan seorang anak. Karakter seorang anak berasal dari keluarga. Dimana
sebagian sampai usia 18 tahun anak-anak di Indonesia menghabiskan waktunya
60-80 % bersama keluarga. Sampai usia 18 tahun, mereka masih membutuhkan
orangtua dan kehangatan dalam keluarga. Sukses seorang anak tidak lepas dari
“kehangatan dalam keluarga”.
Karakter
seorang anak terbentuk terutama pada saat anak berusia 3 hingga 10 tahun. Adalah tugas kita sebagai orang
tua untuk menentukan input seperti apa yang masuk ke dalam pikirannya, sehingga
bisa membentuk karakter anak yang berkualitas. Karakter adalah sesuatu
yang dibentuk, dikonstruksi, seiring dengan berjalannya waktu dan semakin
berkembangnya seorang anak.
Anak itu ibarat kanvas
putih bersih. Diberi goresan hitam, ia akan menjadi hitam. Diberi goresan
kuning, ia akan menjadi kuning. Atau yang lebih tepat, anak itu ibarat
lempung. Dan kita, orang-orang dewasa di sekitarnya, adalah yang membentuk
lempung itu. Akan berbentuk apa lempung itu, hal itu tergantung pada orangtua
yang membentuknya. Ini berkaitan dengan bagaimana dan cara yang harus dilakukan
agar anak didik dari tingkat dasar hingga tingkat tinggi dapat
menginternalisasi, menjalankan, dan terus menjadikan pegangan dalam kehidupan.
Ada 18 karakter yang dapat ditanamkan dalam kehidupan anak-anak. Diantaranya;
religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri,
demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta Tanah Air, menghargai
prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli
lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Pendidikan agama juga
sangat penting dalam lingkungan pendidikan seorang anak. Pendidikan agama dapat
berfungsi sebagai kontrol internal pada diri sang anak. Lingkungan
keluarga harus bisa memberikan contoh perilaku yang baik kepada sang anak. Ubah
lingkungan di mana sang anak itu tumbuh jadi lingkungan yang memberi teladan
baik. Tempatkan ia dalam lingkungan yang memunculkan sifat-sifat baik dalam
dirinya. Lingkungan inilah yang terutama membentuk lempung (anak) itu.
Membangun karakter diperlukan juga semacam reward
and punishment untuk sang anak, terutama di sekolah. Jika ia berlaku baik,
beri semacam “hadiah” apa pun bentuknya, entah itu pujian atau apa pun. Jika ia
berlaku buruk, beri juga ia hukuman. Lingkungan dan reward and punishment ini nantinya akan
menjadi semacam kontrol eksternal (sosial) pada diri sang anak, yang lazimnya
jauh lebih efektif ketimbang sekadar kontrol internal dalam membentuk karakter
baik anak.
Mengutip apa yang diungkapkan Dorothy Law
Nollte:
Jika anak dibesarkan dengan celaan, maka ia
belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, maka ia
belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, maka ia
belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, maka ia
belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, maka ia
belajar mengendalikan diri
Jika anak dibesarkan dengan motivasi, maka ia
belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan kelembutan, maka ia
belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, maka ia
belajar percaya
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, maka ia
belajar menghargai diri sendiri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan
persahabatan, maka ia belajar menemukan kasih dalam kehidupannya
Kunci dalam pendidikan
karakter agar karakter anak bisa tumbuh dan berkembang maksimal, ada 3
kebutuhan yang harus dipenuhi pada anak usia 0 – 7 tahun bahkan lebih, yaitu: kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan untuk mengontrol, dan kebutuhan untuk diterima
*) Ditulis oleh Siti Masithah
EmoticonEmoticon